Tampilkan postingan dengan label Sejarah Nama Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Nama Kota. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

0 Asal Mula Nama Kota Madiun

Sultan Trenggono adalah Sultan Demak ketiga, sekaligus juga yang terakhir. Beliau mangkat pada tahun 1546 di medan perang dalam usahanya menaklukkan daerah Pasuruan di Jawa Timur. Peristiwa tersebut membawa akibat timbulnya perang saudara antar keturunan daerah Demak untuk memperebutkan tahta kerajaan.
Sultan Prawata, putra sulung Sultan Trenggono gugur dalam perebutan tahta itu. Tinggallah Pangeran Hadiri dan Pangeran Adiwijaya. Keduanya sama-sama menantu dari Sultan Trenggono. Yang keluar sebagai pemenangnya adalah Pangeran Adiwijaya.
Atas restu Sunan Kudus, Pangeran Adiwijaya ditetapkan sebagai Sultan dan menetapkan Pajang sebagai pusat kerajaan. Bersamaan dengan penobatan Sultan Adiwijaya, dilantik pula adik ipar sultan, yaitu putra bungsu Sultan Trenggonoyang bernama Pangeran Timur sebagai Bupati di Purabaya yang sekarang disebut Kabupaten Madiun.
Setelah Pangeran Adiwijaya mangkat karena usianya yang sudah tua, pusat pemerintahan berpindah ke Kerajaan Mataram yang didirikan oleh Danang Sutowijoyo atau yang lebih populer disebut Panembahan Senopati. Ia adalah putra sulung Pangeran Adiwijaya. Konon, Panembahan Senopati berwajah tampan, kemauannya keras dan pandai berperang. Sebagai seorang raja besar, Panembahan Senopati bercita-cita hendak menaklukkan para bupati di seluruh Tanah Jawa di bawah panji-panji Mataram.
Terkisahlah Pangeran Timur setelah menjadi bupati di Purabaya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyatnya aman dan makmur. Ia disenangi oleh para bupati di Jawa Timur. Dalam memerintah, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Ronggo Jumenoatau panembahan Mediyun. Dari kata Panembahan yang berasal dari kata adsar sembah sudah jelas bahwa Pangeran Timur memiliki kedudukan yang lebih dibanding para bupati yang lain karena kepadanya orang menghaturkan sembah. Mungkin karena Pangeran Timur masih keturunan Raja Demak Bintoro.
Beberapa bupati yang bersekutu dengan Pangeran Timur di Purabaya yang tidka tunduk pada kekuasaan Mataram adalah Surabaya, Ponorogo, Pasuruan, Kediri, Kedu, Brebek, Pakis, Kertosono, Ngrowo (Tulungagung), Blitar, Trenggalek, Tulung (Caruban), dan Jogorogo.
Panembahan Senopati pernah menyerang Purabaya dua kali, namun gagal. Dalam penyerangannya yang ketiga, Panembahan Senopati mengambil langkah-langkah yang menyangkut siasat dan strategi. Para prajurit dibekali dengan kemampuan dan keterampilan dalam mempergunakan senjata (keris, pedang, tombak, panah) dan ketangkasan menunggang kuda serta mengendalikan kuda.
Pasukan Panembahan Sneopati dibagi menjadi pasukan inti dan pasukan kelas dua. Untuk mengecoh lawan, pasukan kelas dua dilengkapi dengan segala atribut kebesaran perang: genderang, panji-panji, dan umbul-umbul. Pasukan ini tugasnya mengepung Purabaya dan datang dari arah yang berlawanan.
Dalam penyarangan yang dijalankan oleh Panembahan Senopati dibantu oleh dua orang penasihat ahli perang, yaitu Ki Juru Mertani dan Ki Panjawi.
Siasat pertama yang dijalankan oleh Panembahan Senopati adalah mengutus seorang istri/selirnya yang amat dikasihinya untuk berpura-pura tunduk pada pemerintahan Pangeran Timur di Purabaya. Tentulah Pangeran Timur bergirang hati. Diterimanya tanda tunduk dari Mataram. Melihat peristiwa itu, beberapa bupati yang menjadi sekutu Purabaya lengkap dengan prajuritnya yang telah lama bersiaga di Purabaya mulai pulang ke daerah masing-masing. Kabupaten Purabaya dinyatakan dalam keadaan aman dan tenang oleh Pangeran Timur.
Dalam suasana seperti itu, prajurit sandi Mataram segera menghadap Panembahan Senopati di Mataram. Akhirnya dengan pertimbangan yang masak, Panembahan Senopati memimpin prajurit Mataram untuk menyerang Kabupaten Purabaya dari berbagai arah.
Mendapat serangan tiba-tiba dari Mataram, Raden Ayu Retno Jumilah segera mengangkat senjata memimpin para prajurit Purabaya untuk melawan prajurit Mataram, ia masih putri Pangeran Timur. Purabaya yang telah ditinggalkan oleh para sekutunya menghadapi serbuan Panembahan Senopati dipertahankan sepenuhnya oleh pasukan sendiri, itupun yang mereka lawan adalah pasukan kelas dua.
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti, pasukan inti Mataram segera menyerbu pusat pertahanan terakhir yang berada di kompleks istana Kabupaten Purabaya. Pasukan pertama bertugas melindungi keluarga dan istana. Mereka bertempur dengan gagah berani melawan pasukan inti Mataram. Pertempuran yang sangat sengit itu terjadi di sekitar sendang di dalam kompleks istana.
Kabupaten Purabaya akhirnya runtuh pada tahun 1590. Untuk mengenang peristiwa itu, Panembahan Senopati mengubah nama Purabaya menjadi Mbedi Ayun (Mbedi = mbeji = beji dalam bahasa Jawa berarti sendang. Ayun berarti depan atau dapat juga berarti perang. Mbedi Ayun berarti perang di sekitar sendang). Kata Mbedi Ayun akhirnya mengalami perubahan ucapan menjadi Mbediyun, kemudian berubah lagi menjadi Mediyun dan yang terahir adalah Madiun. Konon perang besar itu berakhir pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 Masehi, sekaligus ditandai sebagai penggantian nama Purabaya menjadi Madiun

Selasa, 07 Februari 2012

0 Asal Mula Nama Kota Jakarta

Tidak banyak orang yang tau tentang asal nama dari Jakarta. Kota kelahiran saya ini bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kota ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Sejarah Jakarta banyak diketahui melalui prasasti-prasasti milik kerajaan besar seperti Tarumanegara, Sriwijaya maupun K erajaan Sunda.
Data dari wikipedia menyebutkan bahwa pada awalnya Sunda Kelapa ( dikenal dengan nama Kalapa ) merupakan salah satu pelabuhan milik Kerajaan Hindu bernama Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran ( sekarang Bogor ). Selain pelabuhan Sunda Kelapa, Kerajaan Sunda juga memiliki beberapa pelabuhan lain seperti pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Namun demikian Sunda Kelapa dianggap sebagai pelabuhan terpenting karena memiliki waktu tempuh relatif singkat dari ibukota kerajaan serta merupakan pelabuhan lada yang sibuk.
Bangsa Portugis adalah rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke Bandar Kalapa. kemudian kota ini diserang oleh Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang letaknya tak jauh dari Kalapa. Kemudian Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang ditetapkan sebagai hari lahir Kota Jakarta. Akhir Abad ke-16 barulah orang-orang Belanda datang dan kemudian menguasai Jayakarta. Tanggal 30 Mei 1619 dibawa pimpinan J.P Coen Belanda berhasil merebut dan menduduki Jayakarta sekaligus mengganti namanya menjadi Batavia – diambil dari nama suku Keltik yang pernah tinggal di wilayah negeri Belanda pada zaman Romawi.
Kegiatan pemerintahan dipusatkan di sebuah lapangan yang terletak sekira 500 meter dari bandar. Kemudian Belanda membangun balai kota, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Pertumbuhan yang kian pesat berdampak pada keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini kemudian dinamakan Weltevreden.
Masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia.
Jakarta pun mendapat julukan “Kota 1001 Nama” karena banyaknya perubahan nama. Berikut adalah kronologi singkat perubahan-perubahan nama “Jakarta”

Senin, 06 Februari 2012

0 Asal Mula Nama D.I.Yogyakarta


Nama Yogyakarta berasal dari kata Ayodya, nama sebuah kerajaan terkenal dalam jagad wayang dalam serial epos Ramayana. Ayodya adalah kerajaan tempat Sri Rama dilahirkan. Mengapa nama itu dipilih? Berikut ini ceritanya. 
Sebelum di Yogyakarta dan Surakarta didirikan kerajaan, wilayah itu menjadi satu dan disebut Mataram dengan ibukota Kartasura, yang jaraknya kurang-lebih sepuluh kilometer disebelah barat Surakarta (yang sekarang terkenal dengan sebutan kota Solo). Di kerajaan ini, bertahta Susuhunan Paku Buwono II. Pada tahun 1740, di Batavia yang sekarang disebut Jakarta, terjadi pemberontakan, yang merembet ke Kartasura, sehingga kerajaan itu, pada tahun 1742 jatuh. Raja beserta pasukan dan semua nara praja melarikan diri kea rah timur, yakni ke suatu tempat, yang kemudian dinamakan Surakarta. Pemerintah penjajahan Belanda atau kompeni ikut membantu memulihkan wibawa raja di tempat yang baru. Namun, keadaan belum juga tenang. Sebab, Raden Mas Said, kemenakan raja, memberontak. Kemudian raja membuat semacam sayembara, yakni: siapapun yang dapat memadamkan pemberontakan itu akan dihadiahi tanah yang luas sekali di daerah Sokowati. Tertarik dengan hadiah itu, Pangeran Mangkubumi, adik raja menyanggupkan diri untuk menenteramkan keadaan. Akan tetapi, Patih Pringgoloyo tidak setuju. 
“Kalau Pangeran Mangkubumi mendapatkan hadiah tanah yang begitu luas, ia akan terlalu kuat. Itu berbahaya!” Kata pada saat itu sembari menghaturkan sembah. Sementara masalah itu belum dapat diselesaikan, datanglah Gubernur Jenderal Van Imhoff menagih janji kepada Susuhunan, yakni tanah di pantai utara, sebagai pembayaran atas jasanya membantu memadamkan pemberontakan di Kartasura dan menenteramkan keadaan. 
“Hamba setuju. Hamba setuju. Bapak Gubernur Jenderal pan Imop harus diberi hadiah tanah itu. Dan wilayah Sokowati jangan diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Jangan. Pokoknya jangan. Dibatalkan saja janji itu!” Kata Patih Pringgoloyo dengan suara melengking-lengking. Tentu saja, Pangeran Mangkubumi sangat marah mendengar kata-kata yang diucapkan Pringgoloyo. Susuhunan Paku Buwono II, sebenarnya, maklum akan amarah Mangkubumi. Tetapi, Gubernur Jenderal van Imhoff menegur Pangeran Mangkubumi agar dapat menahan diri. 
“Kamu harus bersikap sopan Mangkubumi,” kata van Imhoff. Dapat dibayangkan malu Pangeran Mangkubumi. Di rumah sendiri, di kerajaan sendiri, di tanah air sendiri, dikata-katai seperti itu. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Mangkubumi segera memberikan sembah kepada Susuhunan Paku Buwono II, dan mohon diri. Ia bergabung dengan Raden Mas Said, orang yang seharusnya tumpas, untuk melawan Belanda yang amat sangat kurang ajar itu. 
Pemberontakan yang dipimpin dua bangsawan tangguh semakin hari semakin meluas. Pada tahun 1750, dibawah pimpinan Raen Mas Said, yang juga dikenal dengan Pangeran Samber Nyawa, pasukan pemberontak menyerbu Surakarta. Lagi, kompeni Belanda diminta bantuan untuk mengusirnya. Berhasil memang, tetapi ratusan tentara Belanda terbunuh; beberapa luka parah. Bahkan dua tahun kemudian, 1752, pemberontakan semakin merajalela. Pangeran Mangkubumi berhasil membujuk rakyat dari Madura sampai Banten untuk menolak semua perintah Belanda. 
Sementara itu, Paku Buwono II sudah digantikan oleh Paku Buwono III dan van Imhoff sudah diganti von Hohendorff. Dua tahun kemudian, Gubernur Jenderal ini diganti oleh Nicolaas Hartingh. Ia segera menghubungi Mangkubumi dan melalui seorang ulama berdarah Turki, bernama Syeh Ibrahim alias Sarip Besar, menawarkan perdamaian. Tawaran diterima dengan syarat, Mataram dibagi dua. Pembagian kerajaan ini dikenal dengan nama Perjanjian Gianti, yang dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 1755. 
Bagaimana dengan Raden Mas Said yang berjuang bersama-sama dengan Mangkubumi? Kelihaian Belanda adalah memecah belah, mengadu domba, dan kemudian menguasainya. Sebelum Hohendorff diganti Hartingh sudah menghubungi Raden Mas Said dan menawarkan kedudukan sebagai putra mahkota; tetapi ditolaknya. Cara-cara Hohendorff melakukan kontak dibuat sedemikian rupa, sehingga Mangkubumi mencurigai Raden Mas Said. Oleh karena itu, keduanya pecah: mereka berjuang sendiri-sendiri. 
Tatkala Perjanjian Gianti ditandatangani, Susuhunan Paku Buwono III menyerahkan keris pusaka bernama Kyai Kopek, yang semula milik Sunan Kali Jaga, kepada Mangkubumi. Pada saat itulah, Mangkubumi resmi menjadi raja dan bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Maka, sekarang tibalah waktunya untuk mencari tempat dimana istana akan didirikan. Sementara usaha sedang berlangsung, Sultan berkenan bertempat tinggal di Ambar Ketawang,. Tidak terlalu jauh dari Art Gallery milik pelukis terkemuka, Drs. H. Amri Yahya. 
Beberapa punggawa kerajaan diutus untuk mencari tempat yang tepat. Tentu saja, ini bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, walaupun pada waktu itu ilmu pengetahuan membangun rumah belum maju seperti sekarang, pengetahuan tradisional sudah cukup sebagai bekal. Namun, karena kegigihan para punggawa, akhirnya tempat itu ditemukan, yaitu hutan Garjitawati, tidak jauh dari desa Beringan. Sultan pun menyetujuinya. Lalu, akan diberi nama apa kerajaan baru itu? 
Alkisah, tatkala masih memimpin perang, oleh para prajurit dan punggawanya yang dekat, Pangeran Mangkubumi senantiasa dipandang mereka dengan penuh kekaguman. Apalagi, tatkala Mangkubumi berhasil menghimpun rakyat dari pantai utara untuk melawan Belanda. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Kemampuan beliau menghimpun rakyat, dipandang para punggawa dan prajurit, bagaikan Sri Rama yang mengerahkan pasukan kera melawan bala tentara raksasa dari kerajaan Alengka. Oleh karena itu, Mangkubumi dijuluki seorang ahli perang. Namun, Mangkubumi juga dikenal sebagai seorang yang gemar bertapa dan bersemedi. Tujuannya, untuk merenungkan semua peristiwa dan mempertimbangkan tindakan yang tepat sebelum melakukannya. Menurut beberapa punggawa, selepas bersamadi, wajah Mangkubumi tampak bersinar; bahkan, dari kedua matanya memancarkan cahaya yang menyorot. Siapa pun yang dipandangnya bagai disentuh hatinya. Tidaklah mengherankan jika punggawa membayangkan bahwa Mangkubumi adalah jelmaan Dewa Wisnu. 
Dalam wayang, Dewa Wisnu menjelma menjadi Krishna yang berkerajaan di Dwarawati. Ia menjadi penasihat keluarga Pandawa yang memenangkan pertempuran besar, Bharatayudha. Bagi para punggawa, sebelum Dewa Wisnu menjelma menjadi Krishna, terlebih dahulu menjelma menjadi Sri Rama yang berkerajaan di Ayodya. Karena Mangkubumi yang sudah bergelar Sultan Hamengku Buwono I dipandang sebagai jelmaan Dewa Wisnu dalam ujud Sri Rama, pantaslah jika kerajaannya disebut Ayodya. Demikianlah, maka kerajaan itu disebut Ayodya, yang kemudian disingkat menjadi Yodya. 
Setiap penamaan, terkadang bukan hanya memberi tanda kepada sesuatu atau seseorang, tetapi juga terkandung harapan. Apalagi, kerajaan itu dibangun dengan kekuatan senjata, pertaruhan jiwa dan raga. Harapan para punggawa, setelah kerajaan Yodya dibangun, seterusnya aman dan tenteram, damai dan sejahtera. Itulah sebabnya, nama Yodya ditambah dengan karta, yang mengandung arti serba baik. Demikianlah, kerajaan itu, kemudian, disebut Yodyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, mungkin karena ucapan, nama itu menjadi Yogyakarta hingga sekarang. Di sebelah utara istana Yogyakarta ada sebuah pasar yang kini dibangun bagus sekali, disebut Beringharja, yang semula desa Beringan, yang letaknya disebelah utara hutan Garjitawati. 

0 Asal Mula Nama Kota Bandung


Mengenai asal-usul nama “Bandung”, dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata ‘Bandung” dalam bahasa Sunda, identik dengan kata “banding” dalam bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabandeng (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata “Bandung” berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata “bandung” mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng adalah sebutan untuk genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi “Bandung”. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kata “Bandung” berasal dari kata “bendung”. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata “Bandung” itu, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu). Akibatnya, daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 kilometer) terendam air menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan “Danau Bandung” atau “Danau Bandung Purba”. Berdasarkan basil penelitian geologi, air “Danau Bandung” diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 – 7000 s.M.). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.
Secara historis, kata atau nama “Bandung” mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten Bandung (sekitar dekade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan “Danau Bandung” terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung. - 

Jumat, 03 Februari 2012

0 Asal Mula Nama Kota Surabaya

Setidaknya ada tiga keterangan tentang muasal nama Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan, nama Surabaya awalnya adalah Churabaya, desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Hal itu tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi. Nama Surabaya juga tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu Surabaya (Surabhaya) tercantum dalam pujasastra tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Namun Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.

Versi berikutnya, nama Surabaya berkait erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama Jayengrono makin kuat dan mandiri karena menguasai ilmu Buaya, sehingga mengancam kedaulatan Majapahit.

Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Dalam versi lainnya lagi, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya

Versi terakhir, dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Subaya Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini berarti pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasar kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.

0 Asal Mula Nama Kota Malang


Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa – Raja dalam agama Ciwa.

Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari – Kegenengan – Kidal – Jago : semuanya berupa candi).

Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen – Kuto Bedah – DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.

Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.

Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.

0 Asal Mula Nama Kota Gresik

melacak asal usul nama Gresik adalah satu hal yang sangat menarik. Banyak ditemukan penuturan tradisional berupa tradisi lisan, babad, serat, syair (macapat), yang kadang tidak dapat diterima oleh akal sehat, sehingga sulit dikaji secara akurat.

Namun sumber tersebut dapat dijadikan studi komparatif dengan sumber lain yang historis. Berikut adalah beberapa sumber sejarah yang berhubungan dengan n...ama Gresik.

Babad Hing Gresik menyebut G
resik dengan nama “Gerwarase”.
Prasasti Karang Bogem tahun 1387 M memuat nama “Gresik” dalam Bahasa Jawa Kuno.
Bangsa Cina yang pernah mendarat di Gresik pada awal abad ke-15 M, mula-mula menyebut “T’Se T’Sun” artinya perkampungan kotor, beberapa tahun kemudian berubah sebutan menjadi “T’Sin T’Sun” artinya kota baru.


Bangsa Portugis ketika pertama kali mendarat di Gresik tahun 1513 menyebutnya dengan ucapan “Agace” tertulis “Gerwarace”.


Bangsa Belanda awalnya menyebut “Gerrici” kemudian dalam banyak dokumen tertulis menjadi “Grissee”. Sampai sekarang tulisan ini dapat dilihat pada sebuah kantor dagangnya di Kampung Kebungson Gresik.


Serat Centini sebuah karya sastra tengah pertama abad ke-19 M menyeb
ut nama “Giri-Gresik”.


Bangsa Arab menyebut “Qorrosyaik”, satu perintah dari seorang nahkoda kapal pada anak buahnya untuk menancapkan sesuatu yaitu jangkar sebagai tanda kapal telah berlabuh.
Solihin Salam menyebut nama “Giri-Isa” ungkapan dari kata Giri berarti bukit, sedangkan Giri-Isa atau Giri-Nata berarti Raja Bukit untuk menyebut penguasa Giri-Gresik.
Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java berpendapat bahwa sebutan Gresik berasal dari kata “Giri-Gisik” berarti tanah di tepi laut (pesisir). Giri-Gisik kemudian berubah menjadi Giri-Sik, akhirnya Gresik.

Dari berbagai sebutan itu dan menurut hikayat yang berkembang di masyarakat, yang menarik adalah sebutan “Giri-Gisik”, karena bahasa pribumi jawa yang menunjuk adanya bukit (Giri) dan pantai (Gisik), ciri yang sungguh serasi benar dengan fisik lokasi Gresik. Giri-Gisik dalam percakapan sehari-hari, akhirnya berubah menjadi “GRESIK”.