Senin, 06 Februari 2012

0 Asal Mula Nama D.I.Yogyakarta


Nama Yogyakarta berasal dari kata Ayodya, nama sebuah kerajaan terkenal dalam jagad wayang dalam serial epos Ramayana. Ayodya adalah kerajaan tempat Sri Rama dilahirkan. Mengapa nama itu dipilih? Berikut ini ceritanya. 
Sebelum di Yogyakarta dan Surakarta didirikan kerajaan, wilayah itu menjadi satu dan disebut Mataram dengan ibukota Kartasura, yang jaraknya kurang-lebih sepuluh kilometer disebelah barat Surakarta (yang sekarang terkenal dengan sebutan kota Solo). Di kerajaan ini, bertahta Susuhunan Paku Buwono II. Pada tahun 1740, di Batavia yang sekarang disebut Jakarta, terjadi pemberontakan, yang merembet ke Kartasura, sehingga kerajaan itu, pada tahun 1742 jatuh. Raja beserta pasukan dan semua nara praja melarikan diri kea rah timur, yakni ke suatu tempat, yang kemudian dinamakan Surakarta. Pemerintah penjajahan Belanda atau kompeni ikut membantu memulihkan wibawa raja di tempat yang baru. Namun, keadaan belum juga tenang. Sebab, Raden Mas Said, kemenakan raja, memberontak. Kemudian raja membuat semacam sayembara, yakni: siapapun yang dapat memadamkan pemberontakan itu akan dihadiahi tanah yang luas sekali di daerah Sokowati. Tertarik dengan hadiah itu, Pangeran Mangkubumi, adik raja menyanggupkan diri untuk menenteramkan keadaan. Akan tetapi, Patih Pringgoloyo tidak setuju. 
“Kalau Pangeran Mangkubumi mendapatkan hadiah tanah yang begitu luas, ia akan terlalu kuat. Itu berbahaya!” Kata pada saat itu sembari menghaturkan sembah. Sementara masalah itu belum dapat diselesaikan, datanglah Gubernur Jenderal Van Imhoff menagih janji kepada Susuhunan, yakni tanah di pantai utara, sebagai pembayaran atas jasanya membantu memadamkan pemberontakan di Kartasura dan menenteramkan keadaan. 
“Hamba setuju. Hamba setuju. Bapak Gubernur Jenderal pan Imop harus diberi hadiah tanah itu. Dan wilayah Sokowati jangan diberikan kepada Pangeran Mangkubumi. Jangan. Pokoknya jangan. Dibatalkan saja janji itu!” Kata Patih Pringgoloyo dengan suara melengking-lengking. Tentu saja, Pangeran Mangkubumi sangat marah mendengar kata-kata yang diucapkan Pringgoloyo. Susuhunan Paku Buwono II, sebenarnya, maklum akan amarah Mangkubumi. Tetapi, Gubernur Jenderal van Imhoff menegur Pangeran Mangkubumi agar dapat menahan diri. 
“Kamu harus bersikap sopan Mangkubumi,” kata van Imhoff. Dapat dibayangkan malu Pangeran Mangkubumi. Di rumah sendiri, di kerajaan sendiri, di tanah air sendiri, dikata-katai seperti itu. Karena tidak dapat menahan amarahnya, Mangkubumi segera memberikan sembah kepada Susuhunan Paku Buwono II, dan mohon diri. Ia bergabung dengan Raden Mas Said, orang yang seharusnya tumpas, untuk melawan Belanda yang amat sangat kurang ajar itu. 
Pemberontakan yang dipimpin dua bangsawan tangguh semakin hari semakin meluas. Pada tahun 1750, dibawah pimpinan Raen Mas Said, yang juga dikenal dengan Pangeran Samber Nyawa, pasukan pemberontak menyerbu Surakarta. Lagi, kompeni Belanda diminta bantuan untuk mengusirnya. Berhasil memang, tetapi ratusan tentara Belanda terbunuh; beberapa luka parah. Bahkan dua tahun kemudian, 1752, pemberontakan semakin merajalela. Pangeran Mangkubumi berhasil membujuk rakyat dari Madura sampai Banten untuk menolak semua perintah Belanda. 
Sementara itu, Paku Buwono II sudah digantikan oleh Paku Buwono III dan van Imhoff sudah diganti von Hohendorff. Dua tahun kemudian, Gubernur Jenderal ini diganti oleh Nicolaas Hartingh. Ia segera menghubungi Mangkubumi dan melalui seorang ulama berdarah Turki, bernama Syeh Ibrahim alias Sarip Besar, menawarkan perdamaian. Tawaran diterima dengan syarat, Mataram dibagi dua. Pembagian kerajaan ini dikenal dengan nama Perjanjian Gianti, yang dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 1755. 
Bagaimana dengan Raden Mas Said yang berjuang bersama-sama dengan Mangkubumi? Kelihaian Belanda adalah memecah belah, mengadu domba, dan kemudian menguasainya. Sebelum Hohendorff diganti Hartingh sudah menghubungi Raden Mas Said dan menawarkan kedudukan sebagai putra mahkota; tetapi ditolaknya. Cara-cara Hohendorff melakukan kontak dibuat sedemikian rupa, sehingga Mangkubumi mencurigai Raden Mas Said. Oleh karena itu, keduanya pecah: mereka berjuang sendiri-sendiri. 
Tatkala Perjanjian Gianti ditandatangani, Susuhunan Paku Buwono III menyerahkan keris pusaka bernama Kyai Kopek, yang semula milik Sunan Kali Jaga, kepada Mangkubumi. Pada saat itulah, Mangkubumi resmi menjadi raja dan bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Maka, sekarang tibalah waktunya untuk mencari tempat dimana istana akan didirikan. Sementara usaha sedang berlangsung, Sultan berkenan bertempat tinggal di Ambar Ketawang,. Tidak terlalu jauh dari Art Gallery milik pelukis terkemuka, Drs. H. Amri Yahya. 
Beberapa punggawa kerajaan diutus untuk mencari tempat yang tepat. Tentu saja, ini bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, walaupun pada waktu itu ilmu pengetahuan membangun rumah belum maju seperti sekarang, pengetahuan tradisional sudah cukup sebagai bekal. Namun, karena kegigihan para punggawa, akhirnya tempat itu ditemukan, yaitu hutan Garjitawati, tidak jauh dari desa Beringan. Sultan pun menyetujuinya. Lalu, akan diberi nama apa kerajaan baru itu? 
Alkisah, tatkala masih memimpin perang, oleh para prajurit dan punggawanya yang dekat, Pangeran Mangkubumi senantiasa dipandang mereka dengan penuh kekaguman. Apalagi, tatkala Mangkubumi berhasil menghimpun rakyat dari pantai utara untuk melawan Belanda. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Kemampuan beliau menghimpun rakyat, dipandang para punggawa dan prajurit, bagaikan Sri Rama yang mengerahkan pasukan kera melawan bala tentara raksasa dari kerajaan Alengka. Oleh karena itu, Mangkubumi dijuluki seorang ahli perang. Namun, Mangkubumi juga dikenal sebagai seorang yang gemar bertapa dan bersemedi. Tujuannya, untuk merenungkan semua peristiwa dan mempertimbangkan tindakan yang tepat sebelum melakukannya. Menurut beberapa punggawa, selepas bersamadi, wajah Mangkubumi tampak bersinar; bahkan, dari kedua matanya memancarkan cahaya yang menyorot. Siapa pun yang dipandangnya bagai disentuh hatinya. Tidaklah mengherankan jika punggawa membayangkan bahwa Mangkubumi adalah jelmaan Dewa Wisnu. 
Dalam wayang, Dewa Wisnu menjelma menjadi Krishna yang berkerajaan di Dwarawati. Ia menjadi penasihat keluarga Pandawa yang memenangkan pertempuran besar, Bharatayudha. Bagi para punggawa, sebelum Dewa Wisnu menjelma menjadi Krishna, terlebih dahulu menjelma menjadi Sri Rama yang berkerajaan di Ayodya. Karena Mangkubumi yang sudah bergelar Sultan Hamengku Buwono I dipandang sebagai jelmaan Dewa Wisnu dalam ujud Sri Rama, pantaslah jika kerajaannya disebut Ayodya. Demikianlah, maka kerajaan itu disebut Ayodya, yang kemudian disingkat menjadi Yodya. 
Setiap penamaan, terkadang bukan hanya memberi tanda kepada sesuatu atau seseorang, tetapi juga terkandung harapan. Apalagi, kerajaan itu dibangun dengan kekuatan senjata, pertaruhan jiwa dan raga. Harapan para punggawa, setelah kerajaan Yodya dibangun, seterusnya aman dan tenteram, damai dan sejahtera. Itulah sebabnya, nama Yodya ditambah dengan karta, yang mengandung arti serba baik. Demikianlah, kerajaan itu, kemudian, disebut Yodyakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, mungkin karena ucapan, nama itu menjadi Yogyakarta hingga sekarang. Di sebelah utara istana Yogyakarta ada sebuah pasar yang kini dibangun bagus sekali, disebut Beringharja, yang semula desa Beringan, yang letaknya disebelah utara hutan Garjitawati. 

0 Asal Mula Nama Kota Bandung


Mengenai asal-usul nama “Bandung”, dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata ‘Bandung” dalam bahasa Sunda, identik dengan kata “banding” dalam bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabandeng (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata “Bandung” berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata “bandung” mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng adalah sebutan untuk genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi “Bandung”. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kata “Bandung” berasal dari kata “bendung”. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata “Bandung” itu, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu). Akibatnya, daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 kilometer) terendam air menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan “Danau Bandung” atau “Danau Bandung Purba”. Berdasarkan basil penelitian geologi, air “Danau Bandung” diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 – 7000 s.M.). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.
Secara historis, kata atau nama “Bandung” mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten Bandung (sekitar dekade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan “Danau Bandung” terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung. - 

Minggu, 05 Februari 2012

0 Template e991 'Verdesta' Free Download

Setelah sebelumnya saya share Template Pekalongan Cheater, kali ini saya akan share template yang dipakai e991 sebagai tema blognya. Kita tau sendiri kualitas cheat PB dari e991 yang tahan lama dan ga diragukan lagi kualitasnya, bagi sobat yang ingin menggunakan template e991 silahkan download link dibawah ini :



Fiture :
  • 3 ( Tiga ) Kolom
  • Sidebar di Kanan dan Kiri
  • Gaya Majalah
  • Tempat untuk Iklan
  • Footer kolom
  • Slideshow keren
  • Post Thumbnails dan Tabs
Designer : CamelGraph

Template Author : PBTemplates

DowNloAd :

DemO :

Semoga bisa berm
anfaat... 

Jumat, 03 Februari 2012

0 Asal Mula Nama Kota Surabaya

Setidaknya ada tiga keterangan tentang muasal nama Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan, nama Surabaya awalnya adalah Churabaya, desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Hal itu tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi. Nama Surabaya juga tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu Surabaya (Surabhaya) tercantum dalam pujasastra tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Namun Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.

Versi berikutnya, nama Surabaya berkait erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama Jayengrono makin kuat dan mandiri karena menguasai ilmu Buaya, sehingga mengancam kedaulatan Majapahit.

Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.

Dalam versi lainnya lagi, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya

Versi terakhir, dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Subaya Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini berarti pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasar kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.

0 Asal Mula Nama Kota Malang


Nama Batara Malangkucecwara disebutkan dalam Piagam Kedu (tahun 907) dan Piagam Singhasari (tahun 908). Diceritakan bahwa para pemegang piagam adalah pemuja Batara (Dewa) Malangkucecwara, Puteswara (Putikecwara menurut Piagam Dinoyo), Kutusan, Cilahedecwara dan Tulecwara. Menurut para ahli diantaranya Bosch, Krom dan Stein Calleneis, nama Batara tersebut sesungguhnya adalah nama Raja setempat yang telah wafat, dimakamkan dalam Candi Malangkucecwara yang kemudian dipuja oleh pengikutnya, hal ini sesuai dengan kultus Dewa – Raja dalam agama Ciwa.

Nama para Batara tersebut sangat dekat dengan nama Kota Malang saat ini, mengingat nama daerah lain juga berkaitan dengan peninggalan di daerah tersebut misalnya Desa Badut (Candi Badut), Singosari (Candi Singosari). Dalam Kitab Pararaton juga diceritakan keeratan hubungan antara nama tempat saat ini dengan nama tempat di masa lalu misalnya Palandit (kini Wendit) yang merupakan pusat mandala atau perguruan agama. Kegiatan agama di Wendit adalah salah satu dari segitiga pusat kegiatan Kutaraja pada masa Ken Arok (Singosari – Kegenengan – Kidal – Jago : semuanya berupa candi).

Pusat mandala disebut sebagai panepen (tempat menyepi) salah satunya disebut Kabalon (Kebalen di masa kini). Letak Kebalen kini yang berada di tepi sungai Brantas sesuai dengan kisah dalam Pararaton yang menyebut mandala Kabalon dekat dengan sungai. Disekitar daerah Kebalen – Kuto Bedah – DAS Brantas banyak dijumpai gua buatan manusia yang hingga kini masih dipakai sebagai tempat menyepi oleh pengikut mistik dan kepercayaan. Bukti lain kedekatan nama tempat ini adalah nama daerah Turyanpada kini Turen, Lulumbang kini Lumbangsari, Warigadya kini Wagir, Karuman kini Kauman.

Pararaton ditulis pada tahun 1481 atau 250 tahun sesudah masa Kerajaan Singosari menggunakan bahasa Jawa Pertengahan dan bukan lagi bahasa Jawa Kuno sehingga diragukan sebagai sumber sejarah yang menyangkut pemerintahan dan politik. Penulisan Pararaton sudah . Namun pendekatan yang dipakai para ahli dalam menyelidiki asal usul nama Kota Malang didasarkan pada asumsi bahwa nama tempat tidak akan jauh berubah dalam kurun waktu tersebut. Hal ini bisa dibuktikan antara lain dari nama Kabalon (tempat menyepi) ternyata juga disebutkan dalam Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa puteri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawardhani (Bhre Lasem) sebelum menggantikan ayahnya terlebih dahulu menyepi di di Kabalon dekat makam leluhurnya yaitu Ken Arok atau Rangga Rajasa alias Cri Amurwabumi. Makam Ken Arok tersebut adalah Candi Kegenengan.

Namun istilah Kabalon hanya dikenal dikalangan bangsawan, hal inilah yang menyebabkan istilah Kabalon tidak berkembang. Rakyat pada masa itu tetap menyebut dan mengenal daerah petilasan Malangkucecwara dengan nama Malang hingga diwariskan pada masa sekarang.

0 Asal Mula Nama Kota Gresik

melacak asal usul nama Gresik adalah satu hal yang sangat menarik. Banyak ditemukan penuturan tradisional berupa tradisi lisan, babad, serat, syair (macapat), yang kadang tidak dapat diterima oleh akal sehat, sehingga sulit dikaji secara akurat.

Namun sumber tersebut dapat dijadikan studi komparatif dengan sumber lain yang historis. Berikut adalah beberapa sumber sejarah yang berhubungan dengan n...ama Gresik.

Babad Hing Gresik menyebut G
resik dengan nama “Gerwarase”.
Prasasti Karang Bogem tahun 1387 M memuat nama “Gresik” dalam Bahasa Jawa Kuno.
Bangsa Cina yang pernah mendarat di Gresik pada awal abad ke-15 M, mula-mula menyebut “T’Se T’Sun” artinya perkampungan kotor, beberapa tahun kemudian berubah sebutan menjadi “T’Sin T’Sun” artinya kota baru.


Bangsa Portugis ketika pertama kali mendarat di Gresik tahun 1513 menyebutnya dengan ucapan “Agace” tertulis “Gerwarace”.


Bangsa Belanda awalnya menyebut “Gerrici” kemudian dalam banyak dokumen tertulis menjadi “Grissee”. Sampai sekarang tulisan ini dapat dilihat pada sebuah kantor dagangnya di Kampung Kebungson Gresik.


Serat Centini sebuah karya sastra tengah pertama abad ke-19 M menyeb
ut nama “Giri-Gresik”.


Bangsa Arab menyebut “Qorrosyaik”, satu perintah dari seorang nahkoda kapal pada anak buahnya untuk menancapkan sesuatu yaitu jangkar sebagai tanda kapal telah berlabuh.
Solihin Salam menyebut nama “Giri-Isa” ungkapan dari kata Giri berarti bukit, sedangkan Giri-Isa atau Giri-Nata berarti Raja Bukit untuk menyebut penguasa Giri-Gresik.
Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java berpendapat bahwa sebutan Gresik berasal dari kata “Giri-Gisik” berarti tanah di tepi laut (pesisir). Giri-Gisik kemudian berubah menjadi Giri-Sik, akhirnya Gresik.

Dari berbagai sebutan itu dan menurut hikayat yang berkembang di masyarakat, yang menarik adalah sebutan “Giri-Gisik”, karena bahasa pribumi jawa yang menunjuk adanya bukit (Giri) dan pantai (Gisik), ciri yang sungguh serasi benar dengan fisik lokasi Gresik. Giri-Gisik dalam percakapan sehari-hari, akhirnya berubah menjadi “GRESIK”.